Desa Wisata Cimande

Kolaborasi STP Bogor dan Desa Wisata Cimande Untuk Kesinambungan Salak Slebor

Bagikan artikel ini

Salak (salacca zalacca) adalah tumbuhan endemik Indonesia yang termasuk dalam keluarga palma (Arecaceae). Buah salak salah satu jenis buah tropis yang berasal dari Indonesia, khususnya dari wilayah Jawa dan Sumatra. Salak termasuk dalam keluarga palma (arecaceae), yaitu kelompok tumbuhan yang biasanya memiliki batang tunggal dan daun yang besar serta memanjang. Namun, berbeda dengan pohon palem pada umumnya, tanaman salak tumbuh berumpun dengan banyak batang pendek dan berduri.

Buah salak merupakan bagian penting dari budaya kuliner Indonesia, terutama di daerah asalnya seperti Yogyakarta dan Bali. Salak sering disajikan dalam acara tradisional dan menjadi oleh-oleh khas daerah. Buah salah begitu bermanfaat, terutama dikonsumsi selama kehamilan karena mengandung berbagai vitamin yang dapat meredakan morning sickness.

Salak Pondoh merupakan salah satu jenis salak yang tumbuh subur di daerah Sleman, Yogyakarta. Salak ini terkenal manis, berukuran besar namun dengan biji yang juga besar, sehingga daging buahnya tidak terlalu tebal.

Di sisi lain, salak endemik yang tumbuh di Bogor, terutama di sekitar lereng-lereng pegunungan memiliki karakter ukuran buah yang kecil dengan rasa yang sedikit sepat dan asam.

Hal inilah yang mendorong salah seorang petani dari Desa Cimande, H. Hamid (Almarhum) yang juga pendiri Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Antanan melakukan percobaan untuk mengawinkan Salak Pondoh Sleman dengan Salak Bogor di awal 1990-an. Salak hasil kawin silang tersebut dinamakan Salak Slebor (Sleman Bogor).

Destinasi Agrowisata

Sejak awal membuka beberapa kebun pada 1990-an, P4S Antanan berhasil menjadikan Salak Slebor sebagai primadona baru di pasar buah di sekitar Bogor. Dengan didukung beberapa kebun pemasok, Salak Slebor yang memiliki karakter buah yang kecil, manis, daging buah tebal dan biji yang kecil mendapat perhatian banyak pihak. Tidak hanya para pedagang buah, Salak Slebor juga menjadi bagian dari penelitian para ahli dan mahasiswa pertanian dari berbagai kampus di Indonesia. Selain itu, kebun Salak Slebor sempat menjadi salah satu destinasi Agrowisata di Desa Cimande dan sekitarnya.

Namun seiring bertambahnya usia pohon serta berkurangnya lahan untuk berkebun, produksi Salak Slebor dari Cimande terus menurun. Padahal sejatinya, agrowisata Salak Slebor menjadi salah satu destinasi andalah bagi Desa Cimande yang sudah disematkan sebagai Desa Wisata sejak 2013 silam. Meski bertumpu pada wisata berbasis budaya dengan Penca Cimande dan Pengobatan Patah Tulang Tradisional, Ngabungbang dan peninggalan bersejarah lainnya, Salak Slebor tetap melekat sebagai ciri khas oleh-oleh dari Cimande.

Pendampingan STP Bogor

Salah satu pihak yang memberi perhatian terhadap Salak Slebor adalah Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bogor. Sejak awal mendampingi pengembangan Desa Wisata Cimande pada 2018, STP Bogor terus berupaya menjadikan Salak Slebor sebagai salah satu komoditas penarik wisatawan.

Hal inilah yang melatarbelakangi STP Bogor berinisiatif membuat lahan percontohan (Demonstration Plot/Demoplot) Salak Slebor pada awal Juni 2025. Di lahan milik P4S Antanan seluas 90 meter persegi tersebut ditanamlah 40 bibit Salak Slebor sebagai kebun percontohan budidaya Salak Slebor. Dengan bantuan dari para pengurus P4S seperti H. Agus Asmara, Sofyan Hadi dan Nurichwan yang mewarisi pengetahuan dan berpengalaman membudidayakan Salak Slebor, demplot ini ditujukan untuk menjadi kebun penelitian, pembibitan sekaligus destinasi Agrowisata di Desa Wisata Cimande.

“Kami melihat Salak Slebor sebagai salah satu komoditas yang unik dan original dari Cimande sehingga patut untuk terus dilestarikan dan dikembangkan. Ini juga menjadi potensi besar untuk kembali bisa menarik wisatawan di sektor agrowisata dan Eduwisata,” ujar Dr. Maidar Simanihuruk, SST Par., M.Pd. M.Par, penggagas Demplot Salak Slebor dari STP Bogor.

Menurut Maidar, ke depannya proyek yang difasilitasi Desa Wisata Cimande dengan dukungan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STP Bogor dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemenpentingsaintek) ini akan menopang pengembangan destinasi wisata di Desa Wisata Cimande.

“Kami tentu menyambut baik keberadaan Demplot Salak Slebor ini karena memang salah satu kesulitan kami adalah upaya peremajaan pohon-pohon Salak Slebor yang sudah tua. Dengan adanya Demplot, kami bisa melakukan pembibitan sekaligus pengembangan varietas Salak Slebor sehingga bisa terus lestari dan menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat Cimande,” ujar H. Agus Asmara.

Bagikan artikel ini

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *